3 hari sebelum kenaikkan kelas 8, aku berpikir akan masuk kelas 8 apa dan aku berharap bisa sekelas sama anak-anak 7A lagi. Saat pembagian kelas ditempel di mading, aku dan teman-teman bergegas untuk melihat pembagian kelas tersebut kulihat dari 8D banyak sekali anak-anak 7A yang masuk 8D aku mencari namaku, ‘ah ternyata tidak ada, mungkin kelas 8c’ batinku. Saat ku melihat kelas 8C ternyata tidak ada juga namaku, aku bingung karena teman-teman yang lain sudah mendapat kelasnya masing-masing, ‘apakah cuma aku sendiri yang tidak sekelas sama teman-teman 7A?’ batinku. Saat itu avia memberitahuku bahwa aku sekelas sama dia di 8B, aku melihat adakah teman-teman 7A yang masuk 8B, ternyata cuma wisnu! Aku heran, dan kucoba untuk melihat lagi pada daftar teman-teman 8B ternyata benar. ‘Ah tak apa-apa terima saja yang ada,mungkin kelas 9 nanti bakal ketemu lagi’ batinku.
Keesokan harinya, aku masuk kelas 8B aku bingung mau ngobrol ke siapa karena aku masih belum bisa beradaptasi dan aku hanya duduk dan terdiam saja di kelas tersebut. Akhirnya aku mengunjungi kelas 8C dan 8D, salah seorang teman menegurku,”eh lin ga apa-apa kok ga bisa sekelas nanti kan kita bisa saling berkunjung ke kelas satu sama lain,lagian juga kelas 9 bakal ketemu lagi kok.” Aku hanya tersenyum. Aku kembali ke kelas, salah seorang teman 8B mengajak ngobrol bersamaku,
“kamu herlin kan?”
“iya”, jawabku.
“aku yayang yang dikenalin sama syifa itu lho”
“oh iya, nisa (nama panggilannya) ya ?”
“iya, hehe. Sini sih bareng yuk sama yang lain jangan diem aja,hehe”
“eh iya”
Waah untung saja ada nisa kukira aku ga sekelas sama dia. Setelah itu aku dikenalin sama nisa ke mila dan yoreda. Akhirnya aku main bareng sama mereka. Ternyata mereka lagi asyik ngelihat video klip SHINEE, itu lho yang boyband korea sampai-sampai yoreda ketawa entah apa yang lucu dari video klip tersebut disusul dengan nisa dan mila yang hanya tersenyum lebar. Aku heran kira-kira apa yang lucu ya? Wah belnya sudah berbunyi, saatnya pengenalan. Aku duduk di belakang mila dan di samping kanan nisa. Mila anaknya pendiam banget.
Seminggu kemudian, kita sudah mulai belajar seperti biasa. Pada hari itu pelajaran bahasa inggris,akan ada pembagian kelompok nih. Aku sekelompok sama annisa nurmalia, annisa ulya, marsha fabiola, ‘syukurlah ada mila’ batinku. Ketidak beruntungnya kenapa harus aku yang jadi ketua di kelompok itu? Akhirnya dibagilah tugas.
“annisa, kamu cari bagian ini ya”, kataku sambil menunjuk kertas tugas tersebut.
“ok, tapi panggil ica aja”, jawabnya.
“iya iya ica”, kataku.
Ica hanya tersenyum, dia anak yang ramah dan juga bersahabat.
Hari demi hari, minggu demi minggu,dan bulan demi bulan sudah kulewati dan aku sudah bisa beradaptasi dengan baik di kelas 8B syukurlah punya teman dekat seperti ica,nisa,mila,haifa,hana,dan yoreda. Biasanya kami pulang sore karena menghabiskan waktu bermain dulu di sekolah. Pulang sekolah ini kami berenam mau nonton film horror ‘Death Bell’ sayangnya hana sudah pulang duluan. Akhirnya kami pun nonton bersama, sekolah sudah sepi dan pada saat itu hanya kami berenam yang ada di kelas. Suasana terasa hening, dan tiba-tiba berubah menjadi bising karena teriakkannya mila. Tak kusangka, mila yang pertama kukenal anaknya pendiam dan sekarang yang sudah menjadi teman dekat, dia jadi cerewet lhoo! Teman-teman terhentak kaget karena teriakkannya dan berkata,”MILAAAAAAAAAAA!!” Mila hanya tersenyum kecil saja. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.30.
“wah udah jam setengah 5 pulang yuk kawan”, kataku.
“iya nih pulang yuk nanti takut dimarahin”, kata ica.
“tapi filmnya belum selesai”, jawab yoreda.
“kalau gitu saya pulang duluan deh”, sahut ica.
“bareng deeh ca!maaf ya pulang duluan”, kataku.
“iya”, jawab teman-teman serempak.
“oh iya besok mau ikut ga ke jembatan putih,tapi kita ke rumah hana dulu ?”, tanya mila.
“hm, insyaallah ya”, jawabku.
“ga tau”, jawab ica.
Akhirnya aku dan ica pulang duluan. Kira-kira suasana di kelas kaya gimana ya? Apalagi mereka cuma berempat udah sore lagi.
Keesokan harinya pada saat pulang sekolah, sesuai janji kemarin aku,mila,nisa,haifa,hana,yoreda akan pergi ke jembatan putih sayangnya ica ga ikut karena ga diijinin. Sebelum pergi ke sana, mila pun mengajak saudara kembarnya terlebih dahulu,mala. Dan mengajak windy,alfiani,shandra,nafa,syifa 8A,dan icha 8A. Waah banyakan juga ya yang ikut, makin seru nih. Sebelum ke jembatan putih, kami mampir ke rumah hana untuk nitip tas, hehe. maap ya na. Akhirnya kami pergi bersama.
Lumayan jauh juga lho ke jembatan putih dari rumah hana, aku sudah capek dan haus begitu pula dengan teman-teman yang lain. Untung ada warung, akhirnya kami jajan dulu di sana. Segernyaa minum es jeruk di cuaca yang panas begini. Setelah itu kami pun melanjutkan perjalanan menuju ke jembatan putih. Cuaca panas dan terasa hening di daerah sini. Akhirnya sampai juga deh! Kami pun beristirahat sejenak di jembatan tersebut, aku penasaran ingin pergi ke tempat yang lebih jauh lagi. Akhirnya kami pun pergi ke tempat yang pemandangannya indah sekali. Sawah yang menghijau, burung-burung yang berkicauan, serta ada sungainya. Tidak lupa, kami pun foto-foto di sana untuk kenang-kenangan,hehehe. Karena sudah merasa puas,kami pun melanjutkan perjalanan untuk menuju ke rumah hana tapi jika kita melewati jalan tadi jauh sekali akhirnya kami putuskan cari jalan terdekat untuk sampai ke rumah hana. Kemudian kami melanjutkan perjalanan agar cepat sampai ke rumah hana. Kami menuju ke suatu tempat di mana tempatnya pasir semua yang menggunung. Di bawah juga terdapat kolam keruh yang sangat dalam, tapi aku bingung bagaimana caranya pulang kalau tidak lewat jalan yang terdekat ini tapi jika kami jatuh kami akan tergelincir dan jatuh ke kolam tersebut waah bahaya juga ya apalagi kolam tersebut dalam sekali. Dengan beraninya, windy pun ke puncak tersebut dengan sendirinya dan katanya pasirnya licin, hati-hati jika ingin ke atas. Akhirnya kami semua ke puncak tersebut bersamaan, waa! Aku terpeleset tapi untung saja aku tidak jatuh ke dalam kolam tersebut. Duuh ekstrim juga yaa. Akhirnya kami semua sampai ke puncak tersebut. Ada sebuah tempat untuk beristirahat,kami pun beristirahat dahulu.
Baru kusadari jam tanganku sepertinya jatuh saat aku terpeleset tadi. Apakah jatuh ke kolam tadi? Ah ya sudahlah tak apa. Beberapa menit kemudian, seorang lelaki mendekati kami. Aduh ada apa ini?
“ehm, apa salah satu dari kalian ada yang kehilangan jam tangan berwarna hitam putih ini?”, tanya lelaki itu sambil menunjukkan jam milikku.
Astagaaa itu kan jamku, kok ada di dia?
“lin itu kan jam punya kamu”, sahut hana.
“eh iya, makasih ya”, jawabku sambil mengambil jam tanganku dari tangannya.
“sama-sama”, jawabnya sambil tersenyum.
Tiba-tiba salah seorang temannya memanggil,”Mi buruan pulang!”
“iyaaa (teriak) eh duluan ya”, katanya.
“iya,makasih yaa”, kataku.
Dia hanya tersenyum. Pertama kalinya ada cowo baik,cool,dan ramah kaya dia, nama panggilannya ‘mi’ kira-kira dia siapa ya? Sepertinya sebaya denganku, dia memakai seragam SMP sama sepertiku. Aku bingung setengah malu, inikah pertanda bahwa aku suka? Ah ga mungkin, masa cuma ngasih jam tangan aja bisa suka. Aku terus memikirkan hal itu berulang-ulang. Dan akhirnya sampai juga di rumah hana.
Teman-teman yang sudah asyik makan dan minum di rumah hana sedangkan aku sedang memikirkan kejadian tadi.Hana mengagetkanku,
“herlin daritadi ngelamun aja makan sama minum dulu sana, ooh apa jangan-jangan mikirin cowo tadi yaa? cie cie”, goda hana.
“apaan sih na!”, jawabku ketus.
Setelah makan dan minum di rumah hana, kami berpamitan dan akhirnya kami pun pulang.
Sesampainya di rumah..
“aaah capek sekali!semua badanku pegal-pegal”, teriakku.
Dan tanpa sengaja, aku teringat kejadian tadi. Aah sudah lupakan, lupakan! Untung saja besok hari minggu. Karena lelahnya, aku pun tertidur pulas. Bangun-bangun sudah jam 4 pagi, ada sms masuk. Dari nisa, ‘besok pagi jogging yaa kawan jam 05.30’. Ah rasanya malas sekali jogging, aku capek hmm tapi akhirnya aku pun ikut jogging. Semua sudah berkumpul dan kami pun mulai jogging. Sudah putaran ketiga, aku haus sekali. Akhirnya aku putuskan untuk membeli minum dulu sebentar dan tanpa sengaja aku bertemu cowo kemarin, dia hanya melirik dan tersenyum padaku aku pun melakukan hal yang sama. ‘kenapa bisa ketemu sama dia lagi?’ batinku. Akhirnya aku pulang begitu saja ke rumah tanpa pamitan kepada teman-teman. Sejak kejadian itu, aku bingung memikirkannya dan teman-teman pun ikut bingung kenapa aku sering melamun.
Seminggu kemudian, aku sudah bersikap seperti biasa dengan teman-teman, kejadian itu membuat aku malu sekaligus bingung memikirkannya tapi aku punya pengalaman yang menyenangkan bersama teman-temanku.